Sayap Sayap Senja
Aku tinggal berdua dengan
Ibu ku. Mereka bercerai saat aku berumur tiga tahun, dengan permasalahan
yang tak ingin kuketahui; dulu, sekarang dan nanti. Meskipun mereka
bercerai, hubungan mereka baik-baik saja, dan Ayahku sudah mempunyai
keluarga baru.
Tulisan ini bukan tentang aku, tetapi tentang Ibuku yang berjuang dan bersabar untuk menunggu cinta sejatinya.
Ibu bekerja di salah satu instansi pemerintahan dengan rutinitas berangkat pagi dan pulang sore hari. Selama Ibu bekerja, aku bersama dengan Ayah. Kebetulan dia membuka usaha sendiri di rumah, sehingga dalam keseharian dia yang menjagaku sampai Ibu pulang kantor.
Beranjak remaja, aku lebih memilih tinggal dengan Ibu. Selain karena Ayah mempunyai keluarga baru, aku lebih nyaman dengan Ibu. Hanya sesekali berkunjung ke rumah Ayah. Saat ini, usiaku dua puluh lima tahun dan sudah bekerja, Ibu masih mempertahankan untuk menjadi “single mom” dengan segala resiko dan tugas-tugasnya. Sempat aku menanyakan kepadanya; Kenapa tidak ingin menikah lagi? Ibu hanya menangis lalu meninggalkanku, masuk dalam kamar. Mungkin aku telah menyakiti hatinya, pikirku.
Untuk ke dua kalinya, dalam satu kesempatan aku dapat berbincang dengan Ibu. Dalam situasi santai, aku memberanikan diri untuk menanyakan pertanyaan yang sama padanya.
“Ibu, sebelumnya aku minta ma’af, mungkin pertanyaanku akan membuat Ibu tidak nyaman. Kenapa Ibu tidak ingin menikah lagi? Apakah Ibu masih mencintai Ayah?” tanyaku terbata penuh kehati-hatian.
“Bukan karena itu, nak.. Ibu dan Ayah sekarang hanya sebatas sahabat yang saling mengasihi satu sama lain, tidak lebih,” jawabnya.
“Lalu, kenapa, bu?”
Air wajah Ibu berubah, muncul kesedihan dan air mata yang hampir berlinang. Ibu menarik nafas panjang lalu bercerita tentang alasan kenapa Ibu belum ingin menikah.
“Beberapa tahun lalu, ketika Ibu masih aktif dalam komunitas parenting, Ibu bertemu dengan seorang pria dengan latar belakang yang sama. Usia kami terpaut cukup jauh, tiga belas tahun. Ibu menjalin hubungan. Pria tersebut juga sebagai narasumber sama seperti Ibu, di komunitas yang sama tetapi bertugas di kota lain.
Pada suatu kesempatan kami bertemu, akhirnya saling berkomitmen. Sudah berjalan lama komitmen di antara kami, namun karena berbagai hal kami berdua bersepakat untuk meletakkan komitmen itu. Kami masih mempunyai perasaan yang sama kala itu. Dan sampai saat ini pun, hati Ibu masih tetap sama padanya. Tak berkurang sedikitpun kadarnya. Entah, Ibu sendiri juga tak mengerti, tetapi Ibu yakin, suatu saat beliau akan kembali untuk menemui Ibu. Karena keyakinan yang sebetulnya tak mendasar itu, Ibu tetap bertahan,” cerita Ibu.
Aku ingat ketika Ibu masih aktif di komunitas tersebut memang sangat bersemangat dan bahagia, dan ternyata ada pria hebat yang merebut hati Ibu. Dan mungkin setelah mereka memutuskan untuk berpisah, Ibu menjadi lebih murung dan tak bersemangat hingga sekarang di usianya hampir enam puluh tahun.
Hari Rabu, di bulan September minggu pertama. Ada surat datang yang ditujukan untuk Ibu. Akupun ingin tahu dari siapa surat itu berasal. Ibu membukanya dengan hati-hati. Mungkin Ibu juga penasaran karena tidak tertulis siapa nama pengirimnya. Ibu membaca surat itu,dan terlihat kaget. Ibu mengatakan bahwa surat tersebut dari pria yang beberapa hari Ibu ceritakan padaku.
“Ibu, boleh aku membacanya?”
“Bacalah, memang sudah seharusnya tak ada rahasia di antara kita.”
Di surat itu, pria itu menanyakan tentang kabar Ibu. Dia menceritakan beberapa hal yang ia kerjakan selama ini dan menyampaikan bahwa belum juga menikah setelah berhenti berkomitmen dengan Ibu. Pria itu juga menyampaikan informasi tentang rencana kegiatan klub “parenting” yang dulu pernah mereka geluti, akan digelar reuni akbar dan bertempat di kota kami.
“Kamu tahu, nak? Tanggal reuni itu bertepatan pada saat kami pertama kali bertemu, 5 Oktober. Ibu tak ingin lebih hancur lagi ketika nanti bertemu dengannya.”
Ibupun tak kuasa menahan tangis.
“Tapi pria itu mengatakan bahwa Ibu harus datang karena itu merupakan acara penting dan tak boleh terlewatkan.”
“Entahlah, apakah Ibu sanggup untuk bertemu dengannya nanti.”
“Bu, turuti kata hati Ibu. Tak ada yang melarang Ibu. Jika Ibu ingin datang, datanglah. Aku siap mengantarkan bila Ibu berkenan.”
Tiga minggu terlewat setelah datangnya surat itu, dan hari ini tepat tanggal 5 Oktober. Sebelum Aku berangkat kerja, aku menanyakan kepada Ibu tentang acara malam nanti. Ibu hanya menjawab “Semoga mood Ibu baik sampai nanti malam.” Terlihat kegelisahan di wajah Ibu meskipun beliau membingkai dalam senyumannya.
Sepulang kerja tanpa basa basi Aku menanyakan kembali pada Ibu tentang acara nanti malam, “Datanglah, bu.. Aku siap mengantar Ibu.”
Ibu mendekat dan mengelus punggungku lalu masuk ke dalam kamar.
Acara dimulai pukul 20.00, sedang sekarang pukul 17.15. Ibu tak kunjung keluar kamar. Aku semakin gelisah. Kubenamkan diri di sofa ruang tengah dengan mendengarkan musik kesukaanku, berharap Ibu akan keluar kamar untuk memberikan berita baik.
Pukul 19.20. Ibu keluar kamar, menghampiriku dan menanyakan:
“Acara dimulai pukul berapa?”
“Pukul delapan, bu,” jawabku girang.
“Bersiaplah,” kata Ibu datar, lalu meninggalkanku menuju kamar mandi.
Aku bergegas untuk bersiap-siap. Ada kelegaan mendengar Ibu memutuskan untuk mengikuti acara tersebut.
Kami pun bersiap berangkat. Dalam perjalanan menuju ke tempat acara tersebut digelar, kuputar lagu “The Power of Love” Celline Dion, tapi kali ini versi Helena Fischer.
“Maaf, Ibu tadi terlelap, semoga kita tidak terlambat,” kata Ibu memecah sunyi di antara kami.
“Lagu ini kenangan kami berdua ketika kami sedang berjauhan,” terangnya.
“Oh ya, bu? Ibu jadi kangen ya?” tanyaku membuatnya sedikit tersenyum .
Ibu terlihat bahagia dan was-was malam ini ditambah dengan lagu kenangannya. Semakin nano-nano pasti rasanya. Aku meraih tangan Ibu yang dingin dan berusaha menenangkan hati Ibu: “Yakinlah, bu, semua akan baik baik saja.”
Sampailah kami di tempat acara itu digelar.
“Seperti bukan acara reuni ya, bu, romantis sekali suasananya.”
“Ah, namanya juga kerjaan event organizer.”
Kami pun masuk setelah melewati berjejer penerima tamu yang berdiri di depan pintu masuk. Terlihat banyak sekali tamu undangan yang datang malam ini, dan hanya ada satu meja yang kosong, tepat di tengah. Kami pun menuju bangku tersebut untuk duduk dan mengikuti acara yang segera dimulai. Ibu terlihat mengamati beberapa sudut di ruangan itu. Untuk mengurangi kegelisahan Ibu, aku mengajaknya untuk berbicara dan menanyakan beberapa hal remeh kepada nya, hingga tanpa sadar di belakang Ibu sudah berdiri pria yang sudah berumur, memegang pundak Ibu. Ibu tersentak dan menoleh. Memang pria itu terlihat penuh kharisma dan sangat berwibawa. Ibu mempersilahkan pria itu duduk di kursi yang berhadapan denganku, di samping Ibu.
Akupun bersalaman dengannya.
“Ibumu banyak bercerita tentang kelucuan masa kecilmu,” ucapnya ketika kami
bersalaman.
Pantas saja Ibu begitu mencintainya, meskipun di usianya kepala tujuh, beliau masih tetap gagah dan berwibawa.
Acarapun dimulai. MC memberikan susunan acara dan sampai pada acara terakhir MC mengatakan bahwa akan ada acara khusus dari salah satu narasumber. Akupun tak berpikir macam-macam tentang hal ini. Ibu dan pria tersebut terlibat bercakapan yang begitu nyaman dan penuh “chemistry”.
Acara demi acara terlewati dengan baik dan begitu meriah. Terlihat semua tamu undangan yang datang begitu bahagia. Sampailah pada acara terakhir, tiba tiba pria tersebut berdiri menuju podium, sedikit memberikan sambutan hangat untuk para tamu undangan. Pada kalimat terakhir, pria tersebut mengatakan hal yang begitu mengejutkan. Ingin melamar Ibu dan menikahinya. Ibu terlihat menangis bahagia malam itu. Meskipun menangis, Ibu terlihat sangat cantik malam ini.
Pria tersebut turun dan menjemput Ibu untuk bersamanya naik ke podium. Dengan saksi tamu undangan yang hadir, pria itu melamar Ibu dan menyematkan cincin di jari manis Ibu. Perasaannya mungkin terharu malam ini. Aku pun turut menangis bahagia melihat kejadian itu.
Kekuatan cinta mereka sangat kuat, meskipun sudah lama mereka tak saling terhubung namun cinta tetap menyatukan mereka meski di usia senja.

Komentar
Posting Komentar