Laut Luka,
Tak ada yang dapat menggantikan kesedihan sebuah kematian, semua pasti memahami bahwa kematian tak perlu diraba. Masa itu pasti datang, pada sesiapa yang hidup, tanpa terkecuali.
Namun tentang pengkhianatan, kau harus meraba begitu dalam apa yang sedang terjadi. Kesedihan itu melebihi sebuah pemahaman tentang kematian, kau harus berdiri sendiri - terpisah karena sebuah kematian.
Tuhan akan bernyanyi untukmu di kedalaman paling sunyi, menghiburmu untuk mengenang sebuah kematian. Tuhan menjadi penghibur dan pemelukmu paling abadi - tanpa suara - tanpa kegaduhan.
Bagaimana dengan pengkhianatan ? apakah Tuhan juga akan menghiburmu dalam ruang beku dengan alunan sunyinya ? aku tak menjamin itu. Kau harus berdiri dengan tenaga yang berlipat ganda, dengan massa lutut yang begitu kuat agar tak goyah menyangga onggokan daging yang terpuruk.
Harapan akan terus datang menusuk kulit hingga ketulang, begitu nyeri - bahkan ketika kau harus bertemu dengan ribuan sorot mata dan ribuan tanya dari mulut - mulut pengumpul makna.
Kebenaran yang harus kau telan adalah musuhmu tak akan pernah berkhianat, melainkan mereka yang terlampau tak berjarak. Sangat menyakitkan bukan? telan saja!! yang terjadi membuatmu kecewa, trauma - jika berujung mati. Kau lemah pada titik ini.
![]() |
| Metaphysical - Pinterest |
Bagi seorang pengkhianat, menikmati makanan semeja dengan mu dengan segenap pujian bahkan mimpi ranum seolah tumbuh, mengakar pada masakan yang kau sajikan dengan taburan komitmen, saat tertentu akan mubazir dan hanya menjadi obrolan basi diatas meja kayu tua.
Pengkhianatan itu abadi, waktu yang kau paksa untuk berlari,
Semeja tak berarti sama sekasur dan setidur.
![]() |


Komentar
Posting Komentar