Malam yang gaduh!!
Nyaring terdengar suara Boncu di belakang rumah, anjing yang
setia menemaniku saat akhir kuliah, hingga sekarang. Gaduh tidak juga
mengganggu perkenalanku dengan Nasruddin.
Nasruddin Hoja yang sekelas dengan Abu Nawas sedang asik
menceritakan humor nya, dengan latar belakang sebagai seorang Sufi sering
membuat orang berpikir tentang humornya. Ketawa
juga sih, tapi mikir dulu.
Nasruddin bercerita tentang seseorang yang ingin belajar
tentang kebijaksanaan dengannya, dia adalah seorang Darwis. Nasruddin bersedia,
dengan catatan bahwa kebijaksanaan hanya bisa dipelajari dengan praktek. Darwis
pun bersedia menemani Nasruddin dan melihat perilakunya.
Malam itu Nasruddin menggosok kayu untuk membuat api. Api
kecil itu ditiup tiupnya, "mengapa api itu kau tiup? tanya sang Darwis".
Agar lebih panas dan lebih besar apinya, jawab Nasruddin.
Setelah api besar, Nasruddin memasak sup. Sup menjadi panas.
Nasruddin menuangkannya kedalam dua mangkok. Ia mengambil mangkoknya, kemudian
meniup niup supnya.
"Mengapa sup itu kau tiup?" tanya sang Darwis.
"Agar lebih dingin dan enak dimakan," jawab Nasruddin.
"Ah, aku rasa aku tidak jadi belajar darimu," ketus
si Darwis. "Engkau tidak bisa konsisten dengan pengetahuanmu."
Ahh,!! Konsistensi

Komentar
Posting Komentar