Sepuluh Menit Mendambanya

Aku melihatnya di sebuah panti rehabilitasi sosial, di kotaku. Kami tinggal di kota yang sama, tapi menurut informasi dia adalah seorang pendatang yang bekerja secara sukarela untuk memberi pendampingan bagi orang orang yang berada di panti sosial. Pekerjaan yang sangat memerlukan keteguhan hati dan sebuah panggilan, aku menyebutnya “passion”.
Kami menamakan tempat semacam itu sebagai “rumah untuk berbagi”, dan tak banyak yang memimpikan untuk dapat bekerja di tempat seperti ini. Selain berhubungan langsung dengan orang orang yang dengan label “terbuang”, juga sebagian di antara mereka menderita skizofrenia dan beberapa gangguan mental lainnya. Butuh sekali kesabaran dan telinga yang lebar untuk membantu mereka dalam menjalani psikoterapi. Meskipun kami sering bertemu, namun untuk terlibat komunikasi secara langsung, kami hampir tidak pernah. Hanya dalam forum umum saja kami menjalankan pekerjaan secara prosedural dan saling membantu.
Meskipun yang kami tangani sebagian besar adalah orang orang yang menderita skizofrenia dan orang yang mempunyai gangguan mental lainnya, kami harus tetap menghormati mereka sebagai manusia yang juga mempunyai kebutuhan secara psikologis sama dengan kami.
Siang itu, sepulang dari tempatku bekerja sebagai guru, aku menyempatkan diri untuk berkunjung ke panti sosial, mengecek apakah penghuni di tempat itu bertambah dan melihat perkembangan beberapa orang yang aku dampingi dalam melakukan psikoterapi. Siang itu dia terlihat sedang mendampingi salah satu pasien dengan gangguan delusi. Mereka terlihat larut dalam sebuah pembicaraan yang terlihat serius dan dia melakukannya dengan penuh perhatian dan kesabaran.
Dia memiliki semua kategori yang bisa menarik perhatianku, mereka duduk tak jauh dari ruanganku, dan meja kerjaku tepat menghadap di mana mereka sedang berbincang. Tubuhnya yang besar, terlihat atletis, kuat, sepasang tangan yang kokoh, rahang yang kuat, rambut yang hitam, sorot mata yang tajam sekaligus penuh keteduhan dan senyum yang manis. Aku memandangnya lebih lama dari biasanya. Dia sedang tertawa dengan salah satu pasiennya sambil menepuk-nepuk punggungnya. Aku sangat terpesona.
Biarlah perempuan-perempuan di luar sana memimpikan pahlawan di dunia sepak bola, basket, atau pria model pakaian dengan segala kelebihan yang rupawan. Berikan aku seorang laki laki yang sayang pada orang-orang yang “berkebutuhan khusus”, dan sabar pada anak kecil. Dia menunjukkan sikap ramah pada pasiennya, dan dia sangat menikmatinya.
Selama sepuluh menit itu aku sangat mendambakannya. Aku ingin menggenggam tangannya saat menonton salah satu film horor di bioskop yang gelap. Ingin mengundangnya untuk makan malam di rumahku bersama putri kecilku, dan menyuguhkan masakan terlezatku untuknya. Aku ingin mengajaknya ke pantai dan membiarkannya bercengkrama dengan putri kecilku. Aku ingin melakukan traveling bersamanya, bergandengan tangan.
Aku menyelesaikan kunjunganku hari itu di panti rehabilitasi sosial dan pergi tanpa pernah berbicara sedikitpun, padanya.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Laut Luka,

Sayap Sayap Senja

Selamat Ulang Tahun, Ibu