Tak ada yang dapat menggantikan kesedihan sebuah kematian, semua pasti memahami bahwa kematian tak perlu diraba. Masa itu pasti datang, pada sesiapa yang hidup, tanpa terkecuali. Namun tentang pengkhianatan, kau harus meraba begitu dalam apa yang sedang terjadi. Kesedihan itu melebihi sebuah pemahaman tentang kematian, kau harus berdiri sendiri - terpisah karena sebuah kematian. Tuhan akan bernyanyi untukmu di kedalaman paling sunyi, menghiburmu untuk mengenang sebuah kematian. Tuhan menjadi penghibur dan pemelukmu paling abadi - tanpa suara - tanpa kegaduhan. Bagaimana dengan pengkhianatan ? apakah Tuhan juga akan menghiburmu dalam ruang beku dengan alunan sunyinya ? aku tak menjamin itu. Kau harus berdiri dengan tenaga yang berlipat ganda, dengan massa lutut yang begitu kuat agar tak goyah menyangga onggokan daging yang terpuruk. Harapan akan terus datang menusuk kulit hingga ketulang, begitu nyeri - bahkan ketika kau harus bertemu dengan ribuan sorot mata dan ribuan tanya dari ...
Aku tinggal berdua dengan Ibu ku. Mereka bercerai saat aku berumur tiga tahun, dengan permasalahan yang tak ingin kuketahui; dulu, sekarang dan nanti. Meskipun mereka bercerai, hubungan mereka baik-baik saja, dan Ayahku sudah mempunyai keluarga baru. Tulisan ini bukan tentang aku, tetapi tentang Ibuku yang berjuang dan bersabar untuk menunggu cinta sejatinya. Ibu bekerja di salah satu instansi pemerintahan dengan rutinitas berangkat pagi dan pulang sore hari. Selama Ibu bekerja, aku bersama dengan Ayah. Kebetulan dia membuka usaha sendiri di rumah, sehingga dalam keseharian dia yang menjagaku sampai Ibu pulang kantor. Beranjak remaja, aku lebih memilih tinggal dengan Ibu. Selain karena Ayah mempunyai keluarga baru, aku lebih nyaman dengan Ibu. Hanya sesekali berkunjung ke rumah Ayah. Saat ini, usiaku dua puluh lima tahun dan sudah bekerja, Ibu masih mempertahankan untuk menjadi “single mom” dengan segala resiko dan tugas-tugasnya. Sempat aku menanyakan kepadanya; ...
Perjalanan panjang membawamu pada ceruk ceruk penuh ornamen, Ada yang terpahat dengan rapi, pun ada berujung tajam hingga melukaimu. Pada rimbunnya ziarah menuntaskan atma mu , Kami ingin menjadi tinta pekat yang hanya denganmu tinta itu menyala melukiskan aksara. Selamat melintasi renta mu yang penuh makna, Dengan kami yang terus belajar tentang adab cinta. "Per Mariam ad Jesum" Ambarawa, 281222 graphite drawing of a father and daughter holding hands II Elisabeth Floyd
Komentar
Posting Komentar